00_juhan-shuttai_sinopsis_episode_01
Share the loves of drama asia!
Follow by Email
Facebook
Facebook
Google+
http://reviewdramaasia.com/2016/04/26/sinopsis-episode-01-juhan-shuttai/

01_juhan-shuttai_sinopsis_episode_01

Kurosawa Kokoro melangkahkan kaki dengan mantap memasuki sebuah gedung. Ini wawancara kerjanya yang ke-21 setelah mengalami 20 kali kegagalan. Saat itu ia sadar. Wawancara kerja sama seperti Judo. Di antara puluhan pegawai yang melamar, tak lebih dari sepuluh yang diterima. Untuk menjadi yang terpilih, ia tidak harus menjatuhkan orang lain. Kurosawa Kokoro bertekad, ia akan menjadi satu di antara sepuluh!

02_juhan-shuttai_sinopsis_episode_01

Saat memasuki ruang interview, Kokoro menyapa seorang petugas kebersihan dengan suara mantap. Saat ia sudah duduk di antara para pelamar, entah mengapa petugas tersebut menganalisa kepribadian beberapa pelamar. Ada yang memasuki ruangan dengan postur tubuh bungkuk dan kurang percaya diri. Namun ketika ia masuk ruangan, badannya langsung dipaksakan tegak dengan senyum yang dipaksakan. Itu yang membuat sang petugas kebersihan agak prihatin. Memaksakan diri untuk terlihat baik saat wawancara memang sudah seharusnya, namun bukan berarti jaminan bisa bertahan lama saat bekerja.

03_juhan-shuttai_sinopsis_episode_01

Observasi sang petugas kebersihan terhenti saat nama Kurosawa Kokoro dipanggil. Nampaknya postur tegak Kokoro dan mata tajamnya berhasil menarik perhatian si petugas kebersihan.

Kokoro menjawab pertanyaan sang pewawancara dengan suara lantang dan tegas.

“Mengapa melamar di pekerjaan ini?”

“Sejak saya kecil, tujuan saya adalah medali emas. Namun setelah saya cedera, saya harus merelakan kehilangan impian saya. Saya kembali berpikir, apa yang ingin saya lakukan dalam hidup saya. Lalu saya ingat, saya ingin menjadi atlit Judo setelah membaca manga, Judo Club Story. Saat saya berada di turnamen internasional pun saya bisa bersosialisasi dengan para atlit dengan menggunakan topik manga. Nama karakter yang muncul di manga sudah dikenal secara internasional. Saya merasa tersentuh.

Saya juga ingin membuat karya seperti itu. Saya ingin berpartisipasi dalam pembuatan manga yang sudah menjadi bahasa internasional di seluruh dunia. Saya ingin mendongkrak antusiasme pembaca. Saya rasa, hanya tempat ini yang membuat saya bersemangat dari lubuk hati yang terdalam.”

Namun sang pewawancara menyangsikan hal itu. Siapapun bisa berbicara. Namun aksi nyata apa yang meyakinkan mereka. Kokoro jujur belum punya gambaran. Ia menjawab belum tahu. Namun ia berpegang teguh pada kutipan di dunia Judo, “Memanfaatkan energi positif” dan “Kesejahteraan timbal balik bagi sesama”. Ia percaya jika ia menggunakan kalimat itu, ia bisa bertahan di dunia manapun.

04_juhan-shuttai_sinopsis_episode_01

Namun belum selesai akan self marketingnya, tiba-tiba sang petugas kebersihan mendobrak masuk sambil mengacungkan sapu dan berteriak, “SEYA!” Refleks Kokoro sang pejudo langsung bereaksi. Kokoro serta merta membanting si petugas dengan jurus andalannya. Namun semua orang langsung shock. Seruan berikutnya yang membuat Kokoro tidak kalah terkejut.

05_juhan-shuttai_sinopsis_episode_01

“Presiden direktur! Anda tidak apa-apa?!”

Yak. Kokoro dengan sukses membanting presiden direktur yang menyamar menjadi seorang petugas kebersihan.

* * *

06_juhan-shuttai_sinopsis_episode_01

Kokoro jelas galau. Dia menghentak-hentakkan kakinya di atas tempat tidur sambil mengerang keras. Setelah puas menumpahkan gundah, Kokoro memandang seragam Judonya dengan pandangan menerawang. Ingatan saat ia cedera hadir kembali di kepala dalam adegan lambat.

Kokoro masih memandang seragamnya, sebelum akhirnya ia mengatupkan tangan di depan kepala. “Kumohon, keajaiban, datanglah!”

* * *

07_juhan-shuttai_sinopsis_episode_01
Rumor bahwa Kurosawa Kokoro melempar presdir langsung menyebar bagai virus. Kepala Editor Kotoukan, Wada Yasuki tertawa lepas saat menggosipkannya dengan rekan kerja. Apalagi teringat saat mewawancarai Kurosawa secara pribadi. Saat bertanya klub olahraga apa yang disukai gadis itu, ia langsung menjawab, “Club Judo Wanita di Universitas Nippon Sport Science“. Gerakan keahliannya adalah bantingan bahu, kemampuan yang dikuasai adalah push up 200 kali.

Kocaknya, saat Wada bilang, “Oke. Coba lakukan.”, Kurosawa langsung berseru. “Baik!” dan push up seketika di ruangan interview. Kurosawa serta merta menarik perhatian di sana.

08_juhan-shuttai_sinopsis_episode_01

Wada puas banget bisa mengerjai anak baru. Meski wawancaranya berjalan menyenangkan, namun keberadaan Kokoro mengundang pro dan kontra. Ada yang bilang kalau nanti dia diterima bisa jadi majalah olahraga, ada yang bilang bisa repot, dsb. Namun di tengah kericuhan itu, Iokibe Kei, salah satu editor berkata: “Tapi hanya dia yang menjawab semua tes dengan nilai sempurna.”
* * *

Sementara itu, di rapat direksi, sang presdir bercerita ia hanya ingin menguji Kurosawa. Ia tertarik dengan poros tubuh gadis itu yang nyaris sempurna. Seperti unggas yang berjalan membelah permukaan air. Poros Kurosawa sama tegaknya dengan binatang itu. Di antara pemain Shogi, Mahjong, dan atlet olahraga yang kebanyakan pengambil resiko, semua memiliki poros yang sempurna. Tipe orang seperti itu memiliki daya perang yang tangguh. Tipe risk-taker yang tangguh

Industri penerbitan pun seperti medan peperangan.

09_juhan-shuttai_sinopsis_episode_01

Kurosawa Kokoro pun diterima bekerja di Penerbit Koutokan! Dia diterima di bagian editorial Weekly Vibes. Dengan suara lantang dan bersemangat ia memperkenalkan diri, meski rekan kerjanya hanya melongo melihat energi gadis itu yang meluap-luap. Tidak sedikit juga yang heran. Mengapa gadis ini bisa diterima?

10_juhan-shuttai_sinopsis_episode_01

Kokoro langsung melaporkan keberhasilannya pada teman-temannya di klub Judo. Semua kontan menyambut dengan suka cita. Namun di antara gegap gempita itu, ada satu pertanyaan sulit yang diajukan teman-temannya.

Sebenarnya apa tugas editor?
Esoknya Kokoro langsung menanyakannya pada Editor senior, Iokibe Kei. Tapi ia hanya menjawab, “Kalau itu, kau harus menemukan jawabannya sendiri. Semua berawal dari sebuah name.” Iokibe langsung menyerahkan setumpuk kertas yang diduga sebagai “Name“.

Kokoro langsung sumringah.

11_juhan-shuttai_sinopsis_episode_01

Name memiliki susunan layout panel dan tokoh-tokoh. Name terdiri dari sketsa kasar dari komposisi kalimat dan gambar. Name diperlukan untuk memberikan gambaran sebelum memasuki produksi yang sebenarnya. Name tidak ada yang pakem. Semua tergantung dari si pengarang komik. Beberapa memberikan sketsa kasar beserta dialog, namun ada juga yang hanya memberikan dialognya saja. Bahkan ada yang hanya berupa coret-coret kasar yang bahkan lebih parah dari gambar anak kecil.

Jika dibandingkan dengan dunia musik, name seperti partitur. Jika kita tidak bisa membaca partitur, kita tidak bisa membayangkan iramanya. Jadi, memahami name adalah skill dasar yang kudu harus dimiliki seorang editor. Wajib hukumnya.

Cerita sedikit mengenai Weekly Vibes. Weekly Vibes adalah majalah komik yang terbit mingguan dengan target pembaca laki-laki. Setiap minggunya dicetak sebanyak 500.000 kopi. Penjualannya tercatat nomor dua terbaik setelah Weekly Emperor. Namun kabar sedihnya, Weekly Vibes belum pernah mengalahkan rekor Weekly Emperor.

14_juhan-shuttai_sinopsis_episode_01

Kokoro grogi abis waktu ke rumah Mikurayama Sensei

Kokoro pun bekerja dengan giat, meski ia belum sepenuhnya mendapatkan tugas real seorang editor. Dan ia pun diajak untuk temu rapat pertamanya bersama Iokibe ke rumah salah satu komikus, Mikurayama Ryu. Kokoro langsung grogi maksimal saat tahu bahwa ia akan berhadapan dengan mangaka (sebutan untuk komikus di Jepang) terkenal itu.

12_juhan-shuttai_sinopsis_episode_01

Mikurayama Ryu adalah salah satu komikus andalan dari Weekly Vibes. Konon ia berada di puncak kejayaan sebagai seorang komikus senior dan ternama. Mikurayama adalah komikus yang sudah ahli di bidangnya, namun tidak pernah merepotkan editor. Dia selalu menyerahkan karyanya tepat waktu. Seri seumur hidupnya yang terkenal adalah Dragon Rapid. Settingnya seputar kehidupan kerajaan. Kisah hebat yang menonjolkan kehidupan tegar sang Matsuei IX dari dinasti Kowloon. Kisah yang menakjubkan itu sangat merebut hati pembaca meski sudah melalangbuana selama 30 tahun.

13_juhan-shuttai_sinopsis_episode_01

asisten mikurayama sensei

Mikurayama-Sensei sangat ramah. Ia bahkan mendengarkan cerita Kokoro mengenai Judo dengan seksama. Ia juga mengenalkan Kokoro dengan asisten-asistennya. Di antara asisten yang bekerja dengan teliti itu, ada satu orang yang terlihat bekerja setengah hati bernama Kanbara. Saat Mikurayama-Sensei mengantar kepergian Kokoro dan Iokibe pun, Kanbara menyempatkan diri menggerutu.

Meski kita bekerja sekeras apapun, kita tidak akan bisa debut dan stuck di tempat ini.

* * *

28_juhan-shuttai_sinopsis_episode_01

Komikus Takahata Issou. Dia terlihat lebih santai dan kekinian dibanding Mikurayama Sensei

Kunjungan selanjutnya adalah ke kediaman Komikus Takahata Issou. Takahata bercerita tentang kinerja Mikurayama yang patut diacungi jempol: menyerahkan manuscript tiga minggu sebelum deadline. Bahkan komikus yang merupakan ‘lulusan’ dari asisten Mikurayama juga mengikuti jejak beliau. Takahata juga mengakui bahwa Mikurayama sangat berbeda dengannya. Ia sulit bisa menyerahkan manuscript tepat waktu.

Kokoro yang nge-fans dengan Takahata sangat antusias dan meminta salaman dengan beliau. Ia salaman dengan tenaga kudanya. Lalu pacar sang komikus muncul. Kokoro memandang sang pacar yang berbusana minim sambil melongo takjub. Lucu banget ngeliat Kokoro yang melambai tangan kecil, terpesona melihat kecantikan si model. Kokoro sangat bersemangat mengarungi dunia barunya.

Yang paling berkesan di pertemuan dengan Mangaka itu adalah bertemu Mikurayama-Sensei. Dia orang yang sangat baik dan perhatian. Bahkan katanya Mikurayama juga rajin melihat dan mengoreksi names dari para asistennya. Lulusan asisten yang cukup berhasil salah satunya adalah Masugo dan Hattan.

15_juhan-shuttai_sinopsis_episode_01

Di rumahnya, Mikurayama tengah mengoreksi name yang dibuat oleh kepala asistennya. Ia juga menanyakan kabar Kanbara-kun, asisten yang terlihat cukup rebel.

“Kanbara, kamu sudah berhenti menggambar? Kalau tidak salah, name terakhir yang kamu berikan itu musim panas tahun lalu bukan? Saat itu tokohnya kurang bisa dimengerti..”

“Kau tidak mengerti karena kau sudah terlalu tua.” hening seketika. Tapi Kanbara terus meracau. “Banyak orang di internet yang bilang, Mikurayama sudah tidak bisa diharapkan. Gambarnya terlalu melebar. Karena orang tua sepertimu yang selalu di atas, anak muda seperti kami tidak bisa memulai debutnya!”

Kanbara membanting kuas yang dipegangnya hingga menodai gambar Mikurayama Sensei, sebelum akhirnya ia berlari keluar ruangan.

Meski Kanbara sudah bersikap kasar, Mikurayama masih bisa memaafkan. Ia memaklumi orang seperti itu saat mencapai batas kesabarannya. Ketika kepalanya dingin, pasti kanbara bisa mengerti maksud dirinya. Para asisten terhenyak melihat Mikurayama Sensei yang bisa setenang itu menghadapi amarah Kanbara yang tumpah ruah.

* * *

Esoknya Kokoro menangis tersedu-sedu membaca Dragon Rapid karangan Mikurayama Sensei. Ia sangat menyukai cerita dan gambarnya, namun rasa-rasanya gambar yang dulu lebih bagus dibanding yang sekarang. Editor yang lain mengatakan bahwa itu hal yang wajar jika terjadi perubahan gambar. Salah satu editor hanya diam sambil update status. “Si Anak Beruang mengangkat topik yang tabu. Jiwa muda yang mengerikan!”

16_juhan-shuttai_sinopsis_episode_01

Tiba-tiba telepon berdering. Wada yang sedang galau lantaran team baseball kesayangannya kalah tiga ronde berturut turut mengangkatnya dengan suara yang ngajak berantem. Ternyata itu dari Mikurayama-sensei. Namun yang mengejutkan adalah, Mikurayama ingin menarik kembali manuscript yang akan naik cetak minggu ini.

Semua kontan kaget. Seperti ada badai kasat mata yang menerjang tim editorial. Wada yang galau setelah tim baseballnya kalah, dikombinasikan dengan berita buruk dari Mikurayama, hasilnya sangat mengerikan. Alhasil yang jadi sasaran adalah editor in charge, Iokibe. Iokibe langsung kena semprot oleh Wada. Akhirnya ia pergi ke rumah Mikurayama Sensei dengan lesu.

Tim editorial langsung hectic. Perubahan cover dan alternatif komikus langsung dicanangkan. Mendadak pagi yang damai itu jadi hiruk pikuk gara-gara sebuah telepon. Kokoro yang masih baru hanya bisa menatap bingung sambil menawarkan bantuan. Namun semua langsung sibuk, dan Kokoro tidak digubris sama sekali.

17_juhan-shuttai_sinopsis_episode_01

Iokibe menunggu dengan sabar di depan rumah Mikurayama Sensei sambil terus berkomunikasi lewat interkom. Mikurayama benar-benar tidak ingin ditemui siapapun. Meski begitu Iokibe tidak menyerah. Ia masih menunggu di luar meski malam sudah merayap. Sementara itu di dalam rumah, Mikurayama duduk lunglai sambil menggenggam sebuah kertas. Tak jauh dari sana, terdapat sketsa tokoh utama Dragon Rapid yang dihapus berulang kali.

19_juhan-shuttai_sinopsis_episode_01

Esoknya ruang tim editorial seperti habis diterjang badai. Para karyawan tertidur lunglai di mejanya. Kokoro yang baru sampai langsung beres-beres ruangan.

Lalu datanglah Hattan Kazuo, salah satu mantan asisten Mikurayama Sensei ke kantor Kotoukan. Ia menceritakan percakapannya dengan Sensei. “Hattan, Owacon itu artinya apa?” Sensei bertanya. Rupanya itu istilah anak muda yang berarti “Owatta Content“. Owatta itu artinya tamat. Hattan yang tidak menduga apapun menjelaskan tentang Owacon. Artinya “Sudah ketinggalan zaman” atau “Sudah tidak diperlukan.” biasa digunakan di kalangan anak muda.

18_juhan-shuttai_sinopsis_episode_01

Mikurayama Sensei langsung lemas saat mengetahui arti Owacon

Sementara itu Iokibe yang masih menunggu di depan rumah Mikurayama, bertemu dengan salah satu asisten, Numata. Numata menceritakan perihal Kanbara yang kabur di tengah tugasnya. Kanbara sudah 10 tahun menjadi asisten dan belum pernah debut sedikitpun. Rupanya, dia mengirim faks pada Mikurayama Sensei di suatu malam. Faks yang berisi komentar-komentar kejam dari netizen.

Mikurayama Sensei yang terlanjur membaca faks itu tercenung seketika. Beliau tidak pernah menggunakan internet dan mendengar kata-kata sekasar itu. Sensei terluka seketika. Ia hanya menatap keluar jendela dengan pandangan kosong.

Yang ingin aku sampaikan di dalam komikku adalah mengenai manusia yang bernilai, rupawan luar dalam, baik hati, dan berharga. Tapi aku tidak berhasil menyampaikannya. – Mikurayama Ryu.

Weekly Vibes akhirnya benar-benar terbit tanpa Dragon Rapid. Koutokan langsung kebanjiran telepon yang menanyakan kabar seri tersebut.

24_juhan-shuttai_sinopsis_episode_01

Sementara itu message board di internet masih dialiri pesan-pesan tanpa belas kasih. Semua bersorak senang Dragon Rapid tiba-tiba berhenti. Iokibe pun bermaksud mengganti sang master dengan komikus lain, namun tidak tahu bagaimana mengutarakannya, dan bagaimana cara melakukannya. Kokoro cemas dan sedih. Benarkah Mikurayama Sensei akan berhenti?

Seri mingguan itu bagai marathon tanpa tujuan. Kita tidak bisa mengalihkan tugas penting ini pada sembarang orang. Kau berjuang sendirian. Setiap minggu berulang terus menggambar name dan bergulat dengan tinta. Meski begitu, kau harus tetap berlari. – Iokibe

Mikurayama Sensei sudah menjalankan serinya selama 30 tahun tanpa rehat sedikitpun. Untuk orang yang sudah berjuang seperti itu dan sekarang kehilangan motivasi, kalimat apa yang cocok dikatakan padanya?

“Kau pernah bertanya Editor itu apa? Aku pun masih mencari jawabannya.” Kata Iokibe dengan suara lirih.

* * *

20_juhan-shuttai_sinopsis_episode_01

Esoknya Kurosawa Kokoro mengunjungi salah satu toko buku kenalannya, Kawa-san. Di sana, ia tidak sengaja bertemu dengan tim sales Koutokan, Koizumi Jun (diperankan Sakaguchi Kentaro). Koizumu Jun salah satu pegawai yang terlihat kurang semangat, oleh karena itu ia sering dijuluki ‘Hantu’ oleh pegawai toko buku yang dikunjunginya.

Ia kemudian berkeliling toko buku dengan Kawa-san. Lalu kakinya berhenti di salah satu rak buku yang menjadi ‘bintang’ toko tersebut. Rak tersebut didesain cukup mencolok, dengan buku mengenai Buddha yang menjadi point of sales. Gambar Buddha dipajang di atas, dengan filosofi bahwa Buddha mencerminkan seseorang yang duduk di kuil, dan menengadah ke atas memberi penghormatan.

21_juhan-shuttai_sinopsis_episode_01

Kawa-san terus berceloteh mengenai Buddha, namun sesuatu menarik perhatian Kokoro. Dengan seksama ia memandang sang Buddha, sebelum ingatannya loncat kembali ke Mikurayama Sensei. Mendadak, ia mendapat pencerahan. Ia memekik “Terima kasih” dengan girang sambil melesat pergi, berlari kencang. Like, literally berlari kencang. Kawa-san cuma bengong menyaksikan gadis itu.

Atlet tidak pernah meninggalkan latihan hariannya. Mereka mempertahankan kekuatan otot agar bertahan di kancah olahraga internasional. Meski begitu, sulit melawan hukum alam: usia. Karena usia, kekuatan otot mulai berkurang. Mikurayama Sensei pun begitu. Selama tiga puluh tahun beliau berhadapan terus dengan meja kerjanya. – Kurosawa Kokoro.

“Mungkin kita bisa menyalakan kembali semangat Mikurayama Sensei!” ucap Kokoro berapi-api.

* * *

29_juhan-shuttai_sinopsis_episode_01

Iokibe dan Kokoro kembali mengunjungi kediaman Mikurayama Sensei. Istri beliau yang lelah dengan seribu alasan akhirnya mengizinkan mereka berdua menemui beliau. Iokibe pun minta maaf, karena merasa telah ‘dimanja’ oleh Mikurayama Sensei yang baik hati lantaran beliau selalu menyerahkan naskah lebih dari tepat waktu. Bahkan di saat sulit seperti ini, mereka tidak bisa dijadikan tempat diskusi. Iokibe secara tidak langsung menawarkan konsultasi, namun ditolak halus oleh Mikurayama Sensei. Ia tidak ingin jadi komikus yang banyak bergantung dengan editornya. Karirnya sudah selesai. Dan dia tidak ada niat untuk melanjutkan.

“Gambar sensei sama sekali tidak berantakan!” sergah Kurosawa Kokoro dengan suara tegas.

“Apa maksudmu?” Tanya mikurayama Sensei.

“Maaf berkata tidak sopan, sensei. Tapi tubuh Anda bungkuk saat ini.” kata Kokoro lagi. “Padahal dulu tidak begitu.” Kokoro menunjukkan foto beliau saat masih muda.

22_juhan-shuttai_sinopsis_episode_01

“Sejak dulu Sensei selalu menggunakan peralatan gambar yang sama. Sudut pandang mejanya pun tak berubah. Namun Sensei semakin lama semakin tambah umur. Punggung dan perut Sensei semakin melemah, dan postur tubuh Sensei pun semakin membungkuk. Saat sensei menggambar, sebetulnya gambarnya tidak berubah. Saat kami mencoba membungkuk pun, gambarnya masih sama seperti dulu.

Sensei tidak kehilangan kemampuan menggambar. Hanya saja sudut pandang Sensei yang berbeda dengan sebelumnya.” Sudut pandang membungkuk membuat gambar Mikurayama Sensei jadi strecht. Jika kita membacanya sambil membungkuk, gambarnya perfectly fine. Tapi kalau kita baca dengan badan tegak, gambarnya strecht

“Yang perlu Sensei lakukan hanya merubah posisi meja gambarnya.” timpal Iokibe meyakinkan.

“Jadi aku tidak akan membuat karya yang memalukan lagi?” kata Mikurayama-Sensei. Iokibe mengangguk yakin.

25_juhan-shuttai_sinopsis_episode_01

Kemudian, ada tamu tak diduga. Mantan asisten Mikurayama Sensei yang kini telah debut komikus datang untuk membantu. Mereka berjumlah empat orang. Mereka menawarkan bantuan sambil menelurkan kata-kata semangat. Antusiasme Mikurayama pun kembali, dan ia bersedia menggambar lagi.

“Ini satu langkah kemenangan. Good job, Kurosawa.” kata Iokibe sambil meninju pelan bahu Kokoro.

“Bukan. Ini kemenangan milik bersama.” kata Kurosawa sambil tersenyum

26_juhan-shuttai_sinopsis_episode_01

Suatu saat nanti, aku ingin merasakan kemenangan lagi. Seperti saat itu. Di tempatku yang sekarang. – Kurosawa Kokoro

Bahkan Mikurayama Sensei mulai mencoba lahan digital. Ia membeli seperangkat macintos lengkap dengan pen tabletnya. Dengan sumringah ia bercerita tentang peralatan barunya pada Iokibe.

Aku tidak bisa kalah dengan usia. – Mikurayama Ryu

30_juhan-shuttai_sinopsis_episode_01

Di ruang editorial pun mendadak berubah ceria. Wada, si editor in chief berseru riang dengan Kurosawa, meneriakkan sesuatu seperti “Ayo kita kalahkan emperor! Yeay!”. Hal ini membuat tim editorial terbengong-bengong. Tim baseball Wada kalah telak, namun dia sangat ceria. Salah satu editor langsung update status. “Si anak beruang bisa menjinakkan monster jahat.” Kurosawa mendapatkan julukan baru: anak beruang.

Iokibe memasuki ruangan dan berhenti di depan meja Kokoro. Ia tertarik dengan kutipan yang tertempel di meja gadis itu.

Gunakan energimu dengan baik. Kesejahteraan timbal balik bagi sesama. Gunakan tenagamu untuk hal baik. Hormati orang lain, dan bersyukurlah. Jika kau bisa menciptakan situasi saling percaya, kau bisa hidup dengan membantu satu sama lain. -Kano Jigorou

“Kutipan yang bagus.” Kata Iokibe sambil tersenyum.

Lalu Kabar baik pun datang. Komik Hanimuu Forever karangan Ono Yoshihito-Sensei mengalami “Juhan Shuttai“. Semua langsung bersorak gembira.

Kurosawa yang penasaran dengan “Juhan Shuttai” menanyakan arti dari istilah itu pada Iokibe.

“Artinya cetak ulang. Jika kita bisa mencetak lebih banyak, kita bisa mencapai lebih banyak pembaca. Dalam membuat komik, Juhan Shuttai adalah goal kita.”

27_juhan-shuttai_sinopsis_episode_01

Kokoro langsung semangat dan ingin mencapai Juhan Shuttai juga. Ia serta merta menulis besar-besar di kertas memo, dan menempelkannya di meja kerjanya.

Juhan Shuttai” adalah tujuanku!”

* * *

REVIEW

Sejauh ini puas banget dengan episode satu. Saya tertarik banget dengan dunia editorial manga di Jepang, dan bersyukur Juhan Shuttai dibuat dramanya. Suka banget ngeliat semangatnya Kokoro. Badan tegak, suara lantang, gestur tubuh penuh semangat. Jadi ketularan meluap-luap juga seperti Kokoro. Cukup menginspirasi saya dalam kehidupan sehari-hari.

Di episode ini ada Sakaguchi Kentaro, pemeran Haruta dalam Itsuka Kono Koi wo Omoidashite Kitto Naite Shimau. Sepertinya dia mendapat peran yang lebih suram, tapi saya menantikan peran seperti apa yang bakal dia mainkan. Sepertinya cukup berbeda dari itsukoi. Jadi nggak sabar, karena saya suka banget sama Sakaguchi Kentaro! 😀

Dunia komik pun sangat menarik. Saya jadi tahu banyak istilah dalam perkomikan jepang. Semua dikemas dengan cara yang atraktif.

Saya suka banget dengan episode 1, dan nggak sabar untuk nonton episode berikutnya. 😀

Lagi demen nonton dramanya the silly but cute Matsuda Ryuhei. Selalu terkagum-kagum sama versatilitas drama Jepang. Demen karakter tsundere, drama yang genrenya unik seperti Akumu-chan, juga suka ngeliat akting Kaku Kento di 1/2 Ranma Live action.
Share the loves of drama asia!
Follow by Email
Facebook
Facebook
Google+
http://reviewdramaasia.com/2016/04/26/sinopsis-episode-01-juhan-shuttai/

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes:

<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>